Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan (Monpera)

JelajahSumatera.com -- Hai sobat #JelajahSumatera ada yang tau Monpera? bagi masyarakat PALEMBANG tentu tidak asing lagi. Namun bagi daerah lain di sekitarnya mungkin masih asing.
Zaman kini Monpera memang sudah kalah pamor dibandingkan dengan objek wisata lainnya. Banyak media yang meliput Monpera, menulis bahwa kini Monpera sudah sepi pengunjung. Kenapa? Entahlah, tulisan ini tidak akan membahas jauh soal itu.

Monpera Sumbagsel atau Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan begitulah nama lengkap objek wisata yang satu ini. Artinya Monpera bukan hanya perwujudan bentuk monumen untuk mengingat perjuangan rakyat Sumatera Selatan saja, melainkan mencakup seluruh Sumatera Bagian Selatan. Yakni Sumsel, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung. Wilayah itu memang dulunya merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Monpera didirikan sebagai perwujudan dari keinginan para sesepuh pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Adapun peletakan batu pertama pembangunan ini dilakukan pada 17 Agustus 1975. Monpera diresmikan pada 23 Februari 1988 oleh Menkokesra saat itu, H. Alamsyah Ratu Prawiranegara.

Perencanaan desain bangunan dilakukan melalui sayembara yang dimenangkan oleh kode "L" Biro Waskito Bandung. Namun, pembangunan monumen ini diperkecil dari format semula menjadi 75% dikarenakan keterbatasan keuangan.

Bentuk bangunan di desain menyerupai bunga melati bermahkota Lima. Bunga melati yang berwarna putih melambangkan kesucian hati para pejuang dalam membela proklamasi 17 Agustus 1945. Sisi lima melambangkan lima daerah keresidenan yang bergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan (SubKOSS) yaitu Keresidenan Palembang, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung.

Bangunan ini memiliki tinggi 17 meter, 8 lantai, dan 45 bidang/jalur yang melambangkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17Agustus 1945.

Dari lantai pertama hingga ke puncak dihubungkan dengan tangga-tangga yang memberi makna bahwa untuk meraih kemerdekaan dan kemenangan dibutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kekuatan lahir dan batin.

Pintu Gerbang utama
Terbuat dari cagak beton bersusun tiga dan berdiri kokoh. Enam buah cagak melambangkan enam daerah perjuangan rakyat di Sumatera Bagian Selatan. Pada tiang/cagak utama dipasang bunga seruni yang banyak terdapat di daerah Sumatera Bagian Selatan khususnya di Palembang.

Tugu Gading Gajah
 Tugu Gading Gajah berada di atas monumen mini yang ada di bagian depan Monpera. Pada bagian depan gading ini terukir prasasti peresmian Monpera Sumbagsel.
Sayang kini  (15/03/2019) kondisi prasasti tersebut tertutup semen sehingga sebagian tidak lagi bisa dibaca.

Relief Pra kemerdekaan
Relief ini terletak disisi kanan Monpera Sumbagsel, berkisah tentang penderitaan dan perjuangan rakyat semasa penjajahan.

Relief perang lima hari lima malam
Relief ini terletak disisi kiri Monpera Sumbagsel dan berkisah tentang pertempuran yang terjadi dari 1 Januari hingga 5 Januari 1947 yang menghancurkan seperlima Kota Palembang.

Jalur sembilan
Terletak tiga di kiri, tiga di kanan dan tiga di belakang monumen. Jalur sembilan ini melambangkan kebersamaan yang tersirat dalam ungkapan Batang Hari Sembilan.

Monpera 2019

Di tahun 2019 ini kita masih bisa naik hingga ke lantai puncak monumen. Petugas memberi tahu bahwa kita boleh membuka pintu yang ada di bagian atas jika ingin naik ke bagian atap. 

Di lantai puncak Monpera adalah bagian paling menarik dari monumen ini menurut kami. Pada lantai ke delapan itu kita disuguhi view yang cukup indah. Dari situ kita bisa langsung dihadapkan dengan jembatan Ampera yang membelah sungai Musi juga landmark utama kota Palembang. 

Geser ke kiri ada pemandangan puncak gedung Pasar 16 Ilir yang untungnya tidak tertutup stasiun LRT yang baru selesai dibangun pada tahun 2018 kemarin.

Kemudian geser ke kiri lagi ada kawasan Masjid Agung Palembang. Sedikit berkeliling ada juga atap gedung kantor pos/ juga RS AK Gani yang tepat bersebelahan dengan Monpera.

Kemudian terlihat juga ada gedung ledeng alias Kantor walikota Palembang yang masih tegak berdiri. Kemudian juga terlihat jembatan Musi VI yang terbilang baru.

Spot foto paling menarik di atas Monpera tentu dengan mengambil Jembatan Ampera dan Sungai Musi sebagai background.

Monpera kini tidak lagi asli seperti saat pertama kali dibangun. Pagar pembatas kawasan Monpera kini sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa gerbang depan saja.

Gading yang juga prasasti peresmian tampak rusak dan tidak lagi terbaca.

Dinding luar di cat warna abu-abu. Entah mengapa tidak berwarna putih saja supaya kesan warna bunga melati tampak terang berkilau apalagi di malam hari.

Pintu masuk Monpera kini hanya ada satu yang dibuka, posisinya yakni di bagian belakang tepat menghadap RS AK Gani. Pas sekali dengan area parkir.

Dinding bagian dalam kini di cat warna oranye menyala dengan list putih. Bagus. Beberapa lantai yang cukup luas telah dilengkapi pendingin ruangan berupa AC. Yakni di lantai 1, 3, 5,

Berikut foto-foto lainnya



































































Baca Juga

Author

Deka Firhansyah, S.I.P. Deka Firhansyah, S.I.P. JelajahSumatera.com Berbagi kisah, Tips and trik seputar wisata Pulau Sumatera.

Post a Comment